Showing posts with label Renungan Kristen. Show all posts
Showing posts with label Renungan Kristen. Show all posts

Sunday, January 17, 2016

Renungan Kristen: DAMPAK KEMALASAN

DAMPAK KEMALASAN
Baca:  Amsal 18:1-24
"Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak."  Amsal 18:9

Hal yang sangat tidak disukai oleh orang dan sekaligus menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan adalah sifat malas.
    
Dalam perumpamaan tentang talenta  (baca  Matius 25:14-30), si tuan kecewa dengan hamba yang dipercaya menerima satu talenta karena ia tidak mengembangkannya, melainkan menyembunyikannya di dalam tanah.  "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? ... Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  (Matius 25:26, 30).  Hamba yang malas harus menuai akibat kemalasannya itu.  Tuhan telah memberi kita kemampuan atau karunia dengan maksud supaya kita berkarya dan mengembangkan kemampuan tersebut semaksimal mungkin, sebab pada saatnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang malas disebut jahat, bahkan disebut sebagai perusak  (ayat nas).  Mengapa?  Karena Tuhan telah memiliki rancangan hal-hal baik bagi setiap orang percaya, tapi Ia menghendaki adanya kerjasama, ada bagian yang harus kita kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya.  Namun karena kita malas dan tidak mau membayar harga, semua rancangan Tuhan atas kita menjadi berantakan bukan karena Tuhan tidak sanggup melaksanakan rencana-Nya, tetapi karena kita sendiri yang tidak mau taat.
   
 Ketahuilah bahwa kemalasan hanya akan berdampak buruk:  merusak masa depan, impian dan harapan menjadi buyar, menghambat kemajuan  (stagnan)  dan cenderung mengalami kemunduran, menyebabkan penderitaan karena tidak ada kekayaan yang akan singgah di dalam rumah pemalas, sebab  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."  (Amsal 10:4).  Akhirnya para pemalas bisanya hanya mengeluh, bersungut-sungut, menjadi beban bagi orang lain, kecewa dan ujung-ujungnya berani menyalahkan Tuhan.


"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."  Pengkotbah 10:18

Tuesday, July 21, 2015

Renungan Kristen: JANGAN SUKA BOHONG!

JANGAN SUKA BOHONG!
Baca:  Mazmur 34:1-23
"Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;"  Mazmur 34:14

Berbohong atau berdusta adalah satu dari sekian banyak kesalahan atau pelanggaran yang hampir semua orang pernah melakukannya.  Bahkan hal berbohong atau berdusta ini seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sepele, lumrah dan dianggap sebagai kesalahan yang manusiawi.  Benarkah demikian?  Ketahuilah bahwa berkata bohong atau dusta  (tidak benar)  bukanlah perkara yang bisa ditoleransi karena hal itu merupakan dosa.

     Berbohong atau berdusta adalah perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan.  Bohong atau dusta adalah salah satu dosa lidah yang sangat berbahaya dan harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan orang percaya.  Alkitab mencatat bahwa bohong atau dusta adalah satu di antara tujuh perkara yang sangat dibenci oleh Tuhan.  "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara."  (Amsal 6:16-19).  Bohong atau dusta sumbernya dari Iblis, karena Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta  (baca  Yohanes 8:44).  Maka jika ada orang yang suka sekali berbohong atau berdusta, siapa bapanya?  Bila kita tidak mau disebut sebagai anak-anak Iblis maka kita harus berhenti berkata bohong atau dusta.

     Sebagai orang percaya kita harus bisa menjaga lidah kita dari ucapan-ucapan yang menipu;  jika tidak, kita bukan hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, tapi juga mempermalukan nama Tuhan.  Terlebih-lebih jika kebiasaan berbohong itu dilakukan oleh mereka yang sudah terlibat dalam pelayanan, apa kata dunia?  Berhati-hatilah!  Bohong atau dusta adalah dosa yang mengikat.  Sekali orang berani berbohong ia akan cenderung untuk terus berbohong, dan akhirnya bisa menjadi suatu kebiasaan.


"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu."  1 Petrus 3:10

Renungan Kristen: KEGAGALAN: Cambuk Untuk Maju

KEGAGALAN: Cambuk Untuk Maju
Baca:  Ayub 42:7-17
"Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu."  Ayub 42:10
Ketika mendengar nama Ayub seringkali yang terbayang di benak kita adalah kisah hidupnya yang penuh penderitaan.  Pencobaan demi pencobaan datang secara beruntun dalam kehidupan Ayub:  10 anaknya mati, harta bendanya ludes, dihujat oleh isteri dan ia sendiri mengalami sakit yang begitu parah.  Jika seseorang berada di posisi Ayub kemungkinan besar ia tidak akan sanggup lagi menjalani hidupnya.
     Karena beratnya penderitaan yang harus ditanggung, apakah bisa dikatakan bahwa Ayub adalah orang yang gagal?  Atau orang yang awalnya sukses,  "...yang terkaya dari semua orang di sebelah timur."  (Ayub 1:3), namun kemudian mengalami kemerosotan dan akhirnya hancur?  Bukankah terhadap orang yang hidup benar firman-Nya berjanji:  "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,"  (Ulangan 28:13)?  Jika kita langsung menyimpulkan Ayub adalah orang yang gagal, itu salah besar!  Adakah orang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya?  Orang yang sukses sekalipun adalah orang yang pernah gagal, bukan hanya satu dua kali, bahkan mungkin berkali-kali, tapi mereka tidak pernah menyerah, melainkan mau belajar dari kegagalan tersebut dan menjadikan itu sebagai pelajaran berharga sekaligus cambuk untuk bangkit dan berjuang lebih keras lagi.  Meski harus mengalami penderitaan yang bertubi-tubi Ayub mampu bertahan dan imannya kepada Tuhan tidak menjadi luntur, terbukti ia masih bisa berkata,  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).  Ayub sangat percaya hal ini:  "...Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."  (Ayub 42:2).
     Mungkin saat ini keadaan Saudara sedang terpuruk, jangan terus merenungi nasib dan putus asa dengan berkata,  "Nasi sudah menjadi bubur".  Bawalah semua persoalan Saudara kepada Tuhan, di dalam Dia pasti ada pertolongan dan jalan keluar.

Bagi orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan,  "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."  Amsal 23:18

Renungan Kristen: TAAT KEPADA ORANG TUA

TAAT KEPADA ORANG TUA
Baca:  1 Samuel 17:12-22

"Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya."  1 Samuel 17:20a

Adalah keharusan seorang anak taat dan patuh kepada orangtuanya.  Demikian pentingnya menghormati orangtua sehingga Tuhan memasukkan perintah ini sebagai bagian dari sepuluh hukum Taurat!  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu."  (Keluaran 20:12), dan kembali ditegaskan dalam Ulangan 5:16,  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu."  Jadi hormat dan taat kepada orang tua adalah perintah yang tidak boleh diremehkan atau diabaikan.  Tuhan menyediakan berkat-Nya bagi anak-anak yang mau taat dan hormat kepada orangtuanya.

     Daud adalah contoh seorang anak yang taat kepada orangtuanya!  Ketika mendapat perintah dari ayahnya,  "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka."  (1 Samuel 17:17-18), maka segeralah ia mengerjakan apa yang disuruh.  Tanpa menunda-nunda waktu ia bangun pagi-pagi dan segeralah  "...mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya."  (1 Samuel 17:20).  Bangun pagi-pagi menyiratkan bahwa Daud adalah seorang yang rajin.  Selain taat Daud adalah seorang yang bertanggung jawab, terlihat dari cara ia meninggalkan tugas pekerjaan yang sedang dilakukannya yaitu menitipkan terlebih dahulu kambing dombanya kepada seorang penjaga, dan barulah ia pergi.

     Di zaman sekarang ini ada banyak anak muda yang kurang menghormati orangtuanya dan suka sekali membantah perintah orangtua.  Padahal ketaatan kepada orangtua akan melatih dan membentuk kita untuk bisa taat kepada Tuhan.


Jika kepada pribadi yang tampak secara kasat mata saja kita tidak bisa taat, bagaimana mungkin kita akan taat kepada Tuhan yang tidak keliatan?

Monday, July 20, 2015

Renungan Kristen: DAMPAK KEMALASAN


Baca:  Amsal 18:1-24
"Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak."  Amsal 18:9

Hal yang sangat tidak disukai oleh orang dan sekaligus menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan adalah sifat malas.
    
Dalam perumpamaan tentang talenta  (baca  Matius 25:14-30), si tuan kecewa dengan hamba yang dipercaya menerima satu talenta karena ia tidak mengembangkannya, melainkan menyembunyikannya di dalam tanah.  "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? ... Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  (Matius 25:26, 30).  Hamba yang malas harus menuai akibat kemalasannya itu.  Tuhan telah memberi kita kemampuan atau karunia dengan maksud supaya kita berkarya dan mengembangkan kemampuan tersebut semaksimal mungkin, sebab pada saatnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang malas disebut jahat, bahkan disebut sebagai perusak  (ayat nas).  Mengapa?  Karena Tuhan telah memiliki rancangan hal-hal baik bagi setiap orang percaya, tapi Ia menghendaki adanya kerjasama, ada bagian yang harus kita kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya.  Namun karena kita malas dan tidak mau membayar harga, semua rancangan Tuhan atas kita menjadi berantakan bukan karena Tuhan tidak sanggup melaksanakan rencana-Nya, tetapi karena kita sendiri yang tidak mau taat.
   
 Ketahuilah bahwa kemalasan hanya akan berdampak buruk:  merusak masa depan, impian dan harapan menjadi buyar, menghambat kemajuan  (stagnan)  dan cenderung mengalami kemunduran, menyebabkan penderitaan karena tidak ada kekayaan yang akan singgah di dalam rumah pemalas, sebab  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."  (Amsal 10:4).  Akhirnya para pemalas bisanya hanya mengeluh, bersungut-sungut, menjadi beban bagi orang lain, kecewa dan ujung-ujungnya berani menyalahkan Tuhan.


"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."  Pengkotbah 10:18

Sunday, April 19, 2015

Renungan Kristen: Hidup adalah Perjuangan

Hidup adalah Perjuangan
Yohanes 5 : 1-18
 “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya” (Yohanes 5 : 4).

Hidup adalah Perjuangan, tema ini tidak asing lagi didalam kehidupan kita. Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa perjuangan, tidak ada keberhasilan hidup tanpa (peluh, keringan dan air mata). Bahkan, seorang ilmuan Thomas Alva Edison berkata “Kesuksesan adalah 1% kegeniusan dan 99% adalah kerja keras.”. Kita lihat dalam kehidupan kita orang-orang muda tidak bisa kita pungkiri banyak tantangan dan resiko yang harus kita hadapi karena kita masih menjalai proses hidup untuk mencari jati diri kita. Kita berjuangan melawan Narkoba, Pergaulan bebas yang mengakibatkan seks bebas, banyak lagi perjuangan yang kita hadapi termasuk perjuangan menghadapi permasalahan dalam hidup kita. Perjuangan itu membutuhkan komitmen dan kerja keras dalam menjalaninya. Tanpa keduanya dapat dikatakan bahwa seseorang tidak memiliki perjuangan atas hidupnya. Namun berbeda halnya dengan yang diri ini rasakan bahwa perjuangan sebenarnya adalah penderitaan. Karena untuk mendapatkan perjuangan dan hasil harus dibayar dengan penderitaan. Kita lihat dalam kehidupan kita anak muda ketika kita jatuh cinta dengan seorang lawan jenis, kita berjuang untuk mendapatkan cinta itu walupun perjuangan dan hasilnya harus kita bayar dengan penderitaan dulu, karena kita menderita ketika dicuekin, ditolak, tetapi tidak putus asa untuk terus berjuang.

Dalam bacaan Firman Tuhan hari ini, Alkitab memberikan perspektif yang berbeda tentang makna dari sebuah perjungan hidup. Didalam bacaan ini dikatakan, Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda. Betesda ini memiliki lima serambi. Di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang, dan orang-rang lumpuh. Disana mereka menantikan goncangan air kolam tersebut. Didalam alkitab dikatakan, Allah membuat aturan main yang luar biasa dan akal manusia yang terbatas sulit memahaminya. Aturan itu adalah barang siapa terdahulu masuk di dalamnya itulah yang mendapat kesembuhan. Aturan ini membuat kita bertanya, kalau hal itu diberlakukan bagi kita orang-orang sehat tidak masalah. Tetapi hal ini diberlakukan bagi orang-orang sakit suatu hal yang sukar dipahami. Namun itulah aturan mainnya. Di sana bisa kita lihat hasil dari penantian dan perjuangan panjang seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

Satu hal yang harus kita ingat, Manusia harus berjuang sedemikian rupa agar memperoleh berkat yang sudah disediakan-Nya yakni kesembuhan. Jika hanya berdiam diri dan tidak pernah mencoba bertarung, maka seumur hidup tidak pernah menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan. Sakit, mengalami permasalah, putus cinta, ditolak cintanya atau apapun itu bukanlah alasan untuk berdiam diri. Keterbatasan bukan pula alasan untuk berkata inilah nasib saya. Tuhan mau, kita berjuang dari keterbatasan yang ada, agar kuasa-Nya makin nyata bagi kita.
Inilah prinsip Firman Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. AMEN.


Kata-kata Bijak : “Semakin kita merasakan perjuangan hidup, semakin dekat pula penemuan kita akan makna kehidupan yang sesungguhnya, walaupun kita terbatas, tetaplah berjuang agar kuasa-Nya menjadi nyata”.



Thursday, April 9, 2015

Renungan : JADILAH MAHKOTA INDAH SESUAI HARAPAN!

JADILAH MAHKOTA INDAH SESUAI HARAPAN!       
Bacaan Nast Alkitab : Titus 2:1-10
“Demikianlah juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. (Titus 2 : 6-7a)”

“Pemuda”, katanya harapan masa depan, harapan orang tua, harapan bangsa, juga harapan gereja! Bagaimana supaya para pemuda kita benar-benar dapat menjadi harapan? Oh, saudara, tentu tidak terjadi begitu saja! Tentu melewati proses juga. Proses itu tentu malah sejak ia dari kandungan, masa bayi, remaja, bahkan hingga menjadi pemuda, untuk selanjutnya benar-benar dapat menjadi harapan masa depan. Itu artinya, tentu saja di mulai dari lingkungan rumah dimana ia dilahirkan. Bahkan sesuai pertumbuhannya, lingkungan gereja, sekolah dan lingkungan masyarakat sekitarnya tentu juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka. Bahkan tidak main-main, kemajuan teknologi memberikan andil besar dalam mewarnai kehidupan  mereka!.

“Pemuda”...... memang harapan kita semua. Tapi sudahkah mereka benar-benar telah dipersiapkan menjadi harapana, lakyaknya menjadi sebuah mahkota yang indah? Oh... itu memang tidak mudah. Tidak cukup hanya melalui ribuat kata-kata nasihat semata. Atau hanya sekedar anjuran supaya rajin sekolah minggu, atau rajin kebaktian pemuda semata! Tidak cukup dengan itu. Tetapi secara menyeluruh. Baik oleh orang tuanya, lingkungan gereja, masyarakat, dan tempat sekolahnya juga. Oleh semua pihak tentu saja. Baik secara langsung!Tidak kurang, banyak juga para orang tua telah mendidik anak-anak mereka sedemikian rupa, dengan harapan supaya anak-anak mereka menjadi orang baik-baik kelak? Tapi kenapa anak mereka tetap nakal, bebal, seperti tidak pernah di ajar? Nah, inilah masalahnya. Karena mereka bukan benda mati. Tapi juga punya mata dan telinga, juga punya hati, bahkan punya keinginan untuk menjadi seperti orang juga. Orang yang dianggapnya sebagai panutan, tentu saja. Maklum, mereka juga sedang mencari identitas diri. Hanya apakah idenditas diri itu telah mereka dapatkan secara tepat dari orang-orang atau lingkungan? Benarkah dalam lingkungan keluarga sendiri kita sudah memberikan semacam panutan identitas diri buat mereka? Atau hanya sekedar anjuran supaya rajin sekolah minggu, kebaktian pemuda saja buat mereka? Sementara kita sebagai orang tua sendiri malas sembahyang? Makan saja tanpa berdoa, bagaimana doa sebagai nafas kehidupan dapat kita teladankan?

Kita memang tidak menyangsikan maksud baik orang tua bagi anak-anaknya. Hanya sadar atau tidak, strateginya mungkin yang salah! Dapat saudara bayangkan bila ada anak berusia dua tahun sudah bisa membedakan, mana uang seribu, duapuluhan, dan limapuluhan ribu! Yang limapuluhan ribu dipilihnya, sambil ia perlihatkan kepada ibunya, bahwa uang itu untuk ke mall katanya. Astaga! Kenapa sampai bisa terjadi begitu? Apalagi kalau bukan bahwa ia sering dibawa ke mall dan uang sejenis itu yang sering ia lihat ketika ia dibawa oleh ibunya ke mall?! Lalu yang untuk persembahan? Mungkin tidak sempat dikasih tahu, atau memang orang tuannya sendiri jarang ke gereja. Atau ke gereja juga tapi hanya kebiasaan saja tanpa penghayatan, dan ketika persembahan..... Hehehehe...... (maaf)! Tahulah sendiri apa kira-kira jawabannya!

Tidak kurang waktu liburan? Si anak berkata kepada orang tua: “Pah/mah, aku pengin liburan ke anu...., minta uang jajannya.” Oh, maka segera orang tua mengusahakannya. Tidak kurang untuk urusan sekolahnya, urusan kecerdasan otaknya, orang tua habis-habisan mengusahakannya, jual ladang, atau ngutang , atau kredit dimana saja, demi anaknya. Oh, itu baik saja! Tapi kalau urusan rohaninya? Urusan moralitas, etika, atau daya tahan iman? Apa yang sudah dilakukan? Berapa biaya yang berani dikeluarkan? Karenanya tidak heran bila di masa sekarang ini, banyak generasi mudah kita hanya cerdas otaknya, tapi merosot moralitasnya. tidak kurang di sekolah-sekolah, bahkan dijejali tambahan berbagai les pada sore hari juga, untu ktidak kurang dalam persekutuan gereja! Terkesan jalan sendiri-sendiri. Majelis dan jemaat jalan sendiri. Pemuda jalan sendiri, atur sendiri! Apa yang terjadi dalam rapat-rapat gereja kita? Oh, lebih banyak sibuk program ini program itu. Lalu program untuk pemuda? Paling-paling disediakan alat band, seolah selesailah sudah masalah! Silahkan pemuda latihan sendiri. Itu pun kalau ada anggarannya tersedia. Jika tidak, itu ditunda saja.

Lalu ketika mereka ibadah sini, ibadah sana, ke berbagai gereja? (syukur kalau pemuda ingat ingat gereja). Akh, paling-paling kita katakan pendeta atau majelis nda becus membina. Atau kalau mereka terlibat berbagai kenakalan remaja, ngebut di jalan, kumpul kebo, mabuk-mabukan di jalan, atau terjerumus dalam obat-obatan dan berbagai kejahatan? Oh tidak kurang (maaf!), para pendeta, majelis, aparat keamanan, para pejabat terkait dengan mudah saja mengatakan, itu kelalaian orang tua, yang seharusnya membina anaknya. Oh, jadi serba menyalahkan rupanya. Tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya anjuran, peringatan basa basi layaknya. Tidak ketinggalan para intelektual, menorot dari berbagai sudut pandang, sudut ini, sudut itu, tapi juga kurang menyengat dalam andil nyata, bagaimana yang seharusnya bersama-sama kita lakukan. Hanya kritik saja, banci jadinya! Yang tidak kalah menarik, biasanya kita jadi begitu antusias memandang berbagai permasalahan generasi muda kita, justru ketika masalah sudah terjadi. Nasihat ini, nasihat itu. Padahal, tidak kurang juga kita sebagai orang tua, baik sebagai pemimpin gereja, tokoh masyarakat, artis terkenal, para penegak hukum, atau para pejabat negeri? Oh, pornografi, pornoaksi, seolah bukan barang langka lagi! Korupsi para pejabat seolah bukan sesuatu yang haram lagi! Kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan besar persentasenya! Tidak kurang (maaf untuk kesekian kalinya!), para penegak hukum banyak juga yang terlibat baku hantam di tempat remang-remang. Atau para pejabat terlibat narkoba yang berkeliaran saja? Atau para anggota dewan yang ketiduran di persidangan? Apakah kita anggap ini hal sepele dan tidak ada hubungaan keterkaitan sebagai panutan generasi kita? Masalahnya memang tidak gampang. Tidak cukup hanya lewat doa atau khotbah mimbar gereja saja. Harus oleh semua kita!Lalu, dari mana kita memulainya? Yang utama tentu saja keluarga atau orang tua. Jadilah teladan, bukan hanya nasihat, atau larangan sebatan kata-kata. Yang tua, hiduplah sederhana. Kata “sederhana” dalam nas ini, tidak berarti orang tua lalu berpakaian compang camping! Tetapi dalam arti tidak hidup hura-hura, atau terlalu banyak teori yang muluk-muluk tetapi tidak nyata dalam tindakan. Ya, itu persisnya! Juga hidup terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Ya, harus mulai dari itu (ay.2). demikian pun perempuan-perempuan yang tua, hiduplah sebagai orang yang beribadah, jangan hanya suka memanjakan anak ke mall saja, jangan memfitnah, jangan hanya sibuk ngurus kecantikan dan penampilan diri sendiri saja, atau malah jadi penjudi segala. Jika demikian bagaimana mungkin dapat membina perempuan muda dengan keteladanan? (ay.3).

Menurut hemat kita, ada baiknya juga pembinaan gereja harus secara serius, terprogram dan berkesinambungan. Program yang dimaksud tentu saja bukan sekedar menyediakan alat band, untuk gedebak-gedebuk, nda karu-karuan. Pembinaan yang hany bersifat hiburan! Atau hanya sekedar PA yang menambah kelelahan melanjutkan pelajaran teori yang di sekolahan! Yang dibutuhkan oleh pemuda tentu saja, semacam pendampingan, tempat curhat sebagai kawan untuk penguatan, kepercayaan identitas diri ke arah yang lebih kreatif menghadapi tantangan jaman! Ya, pembentukan kepribadian. Sudahkah itu kita pikirkan atau lakukan? Ini menjadi PR kita selaku gereja. Jadi bukan sekedar hanya menyalahkan mereka, menyalahkan orang tua, menyalahkan majelis, menyalahkan pemerintah, atau menyalahkan kemajuan jaman dan teknologi.Tidak ada yang salah dengan dunia ini. Matahari tetap terbit dari Timur dan tenggelam di Barat seperti sedia kala. Yang salah, kalau mau mencari siapa yang salah, ya semua kita yang harus berbenah diri!

Bagaimana peran pemerintah? Jangan serahkan mentah-mentah begitu saja kepada para orang tua, majelis atau guru SHA atau pembina pemuda saja. Karena mereka juga adqalah harapan nusa dan bangsa juga. Harapan kita bersama! Apa peran Menteri Pemuda dan olah Raga dan jajarannya? Apakah cukup hanya mengurus soal sepak bola kita yang terpuruk jadi tertawaan dunia? Buatlah juga sekiranya bentuk melalui mana para pemuda kita terbina sejak generasi mudah hingga sungguh-sungguh jadi mahkota harqapan bangsa. Tidak cukup hanya sekedar penyuluhan yang sekali-sekali saja.

Lalu bagaimana Anda para pemuda sendiri? Nah...nah..nah... Janganlah hanya menyalahkan orang tua, gereja, atau menyalahkan apa saja. Perlu juga Anda sebagai orang muda koreksi diri. Jangan hanya terbawa perasaan, merasa yang harus serba diperhatikan dan dituruti kemauan sebagai bentuk atau wadah bukti kreativitas , sebagai pemuda beriman, ambil bagian dalam keterlibatan mereka memberi warna gerejanya demi kesinambungan masa depan dan kesaksian! Lalu Anda sebagai pemuda Gereja sekarang? Atau lebih banyak bertanya “apa yang dapat gereja berikan untuk saya?” Lalu bila dirasa gereja tidak memberikan apa-apa, jadi lari sani-lari sana, cari gereja hanya untuk hiburan, gedebak-gedebuk drum pengiring nyanyian?

Oh... Bila itu pertanyaannya, bila itu yang Anda lakukan, berarti Anda bukan tambah lebih baik dan lebih maju dari para pemuda pendahulu Anda. Walau intelektualitas anda jauh lebih mafan dari mereka! Kuasailah dirimu dalam segala hal. Jadilah teladan dalam berbuat baik. (ay.7-8). Penguasaan diri, itu kata kunci. Itu awal yang baik, untuk memilih yang baik, berpikir secara jernih, dan bertindak hingga benar-benar jadi mahkota yang indah sesuai apa yang diharapkan. Bukan menjadi sampah tak berguna yang ditenggelamkan oleh arus jaman yang serba menawan, namun yang hanya berakhir ke kuburan. Bangkitlah wahai pemuda. Lanjutkan dan buktikan kepada para pendahulumu, tanpa banyak embel-embel picisan ini-itu. Buktikanbahwa engkau masih ada di mana orang semakin menyepelekan Tuhan seperti di jaman ini. Dan buatlah Tuhan tetap tersenyum di atas sana!. AMIN!


Friday, March 27, 2015

Renungan: Tetap semangat Apapun yang terjadi

Tetap semangat Apapun yang terjadi
“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaan, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18 : 14
K

aum muda banyak pesoalan atau masalah yang menimpa kita setiap saat. Entah itu saya, kaum muda, anak-anak, orang tua, kita hidup didunia ini selalu berhadapan dengan yang namanya pergumulan atau persoalan.

Ingat, kita jangan boleh menyerah, walau badai apapun yang menerpa hidup kita. Sebab Tuhan katakan pencobaan yang kita alami tidak pernah melebihi kekutan kita, seperti dalam Firman Tuhan : “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampui kekutanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya” 1 Korintus 10 :13.

Kaum muda ada banyak hambatan-hambatan dalam kita meraih sebuah keberhasilan  antara lain sikap yang putus asa, patah semangat, menyerah, keinginan untuk mundur, tidak mau berusaha dan lain sebagainya. Sikap ini kalau dibiarkan akan membuat kita frustasi. Dalam menghadapai masalah. Saya, kaum muda dan siapapun membutuhkan yang namanya “Semangat”  untuk berjuang dan bangkit, besama Tuhan kita sampai pada tujuan yang diinginkan. Ketika saya, kaum muda dan siapapun putus asa, melalui Yesus Kristus kita memohon kepada Allah, untuk menerima kekuatan dan semangat agar mampu menghadapi situasi ini.

Kaum muda orang yang bersemangat adalah orang-orang yang tidak mau menyerah, tidak mau terpengaruh oleh keadaan, sekalipun itu kurang baik. Orang yang bersemangat akan tetap optimis, mereka pecaya besama dengan Allah, akan dimampukan untuk menghadapai setiap pesoalan hidup ini. Filipi 4 : 13 mengatakan Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita.

Kaum muda tetaplah pecaya pada Firman Allah yang berkuasa. Jadilah orang-orang yang bersmegnat dalam hidup ini, apapun yang sedang terjadi dalam hidupmu, tetaplah miliki semangat. Semangat sangat perlu untuk kita mendapatkan apa yang kita ingin capai. Dengan semangat kita tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan dan ada usaha untuk mencapainya.

Kaum muda semangat merupan jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan. Tetap semangat dan miliki keberanian untuk melakukan Firman Allah, jangan pernah menyerah dan tetap teguh pegang janji Tuhan, sampai menjadi sebuah kenyataan. Kalau semangatmu sedang lemah, bangkitlah mencari Tuhan dengan bedoa, membaca Firman Allah. Pasti ada kekuaran baru dan upah yang akan diberikan-Nya, kita bisa lihat di dalam 2 Tawarikh 15 : 7 “Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”.

Kaum muda, Tuhan akan memulihkan setiap semangat yang patah. Orang yang bersemangat akan selalu optimis dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidupnya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seperti janjinya didalam Mazmur 34 : 19 “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”

Selamat berjuangan dan tetap semangat. Tuhan memberkai kita semua. Amin.


Friday, March 13, 2015

Renungan Kristen : DI MANA BUMI DI PIJAK DI SITU LANGIT DIJUNJUNG


"DI MANA BUMI DI PIJAK DI SITU LANGIT DIJUNJUNG"
(1 Petrus 2 : 11-17)
S
aat mana saya baru berkenalan dengan seseorang, ada yang bertanya “anda orang mana”, saya langsung menjawab “saya orang sini saja”. “Bukan! Maksud saya anda asalnya dari mana?” Saya terdiam sejenak, lalu saya katakan saya lahir di kota P, kakek saya berasal dari desa T, ayah saya dibesarkan di desa J, ibu saya berasal dari desa H, dan saya di besarkan di desa B, lalu saya berasal dari mana ya..? Yang pasti saya orang Dayak Ngaju.

Darah kita mungkin berbeda, mungkin tidak ada hubungan kekerabatan, tetapi sekarang di mana bumi kita pijak disitu kita menjalani kehidupan ini. Mungkin kita tidak berasal dari daerah ini, tetapi kita hidup di sini. Dan kita harus hidup sebagaimana mestinya dimana kita ada.

Yang pertama, perlu kita sadari bahwa kita adalah mahluk yang dinamakan “manusia”. Kita bukanlah “manusia super, bukan pula malaikat. Tentu kita bukan binatang, tetapi manusia seutuhnya yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Kita ada karena mereka, dan mereka ada karena kita. Kita membutuhkan orang lain dan orang lain juga membutuhkan kita. Kita hidup di tengah-tengah manusia yang majemuk dan memiliki berbagai karakter dan gaya hidup, tradisi dan adat budaya serta kepercayaan masing-masing.

Kedua, kita dipanggil untuk hidup dimanapun kita berada untuk menjadikan hidup kita berguna bagi orang lain, membangun tatanan sosial masyarakat, mendukung pembangunan pemerintah, membela ketidakadilan dan penindasan atau penjajahan. Kita diutus kedalam dunia ini untuk mewujudkan “damai Sejahtera” bagi orang lain bagi masyarakat dan orang banyak di mana kita ada. Kita harus mengahargai orang lain, mengahargai adat, tradisi, budaya dan tata cara yang berlaku sah di mana kita ada.

Ketiga, kita bukanlah orang-orang perusak, perusuh, bukan oknum yang membodohi, melainkan mencerdaskan. Kita bukanlah orang-yang menjajah tetapi membawa kemakmuran bagi orang lain. Kita adalah pembawa terang bukan kegelapan. Kita bukan pemicu ancaman tetapi pioneer ketentraman. Kita bukanlah orang yang disumpahi tetapi yang selalu didoakan dengan doa syukur dan doa berkat.

Saudara, apapun kata orang itu tidaklah penting, namun apa yang telah kita lakukan bagi orang lain. “Dimana bumi di pijak di situ langit dijunjung. Kita menghormati Pemerintah yang memimpin kita dengan baik, kita menghormati segala aturan maupun adat istiadat. Kita menghormati hak hidup orang banyak dan Hak azasi manusia. Kita menghargai pendapat dan saran serta kritik orang lain yang membangun kebersamaan. Namun kita juga siap menentang ketidakadilan dan kesenjangan sosial serta menyuarakan kebenaran. Dan kita harus menunjukkan hidup yang bermartabat dan penuh kasih terhadap sesama manusia dan alam semesta, maka kita telah menjadi utusan yang memberitakan perbuatan Allah yang besar. Orang lain akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita katakan. AMIN.



Renungan Kristen : Si sombong

Si Sombong
Ester 5:11-13
P
adanan kata untuk sombong adalah congkak, angkuh, pongah, tinggi hati, dan takabur. Sombong merupakan salah satu sifat yang dibenci Tuhan. Sifat sombong mewujud dalam berbagai sikap hidup seseorang. Salah satunya memamerkan kelebihan yang dia miliki dihadapan orang lain. Haman termasuk orang yang sombong! Ada empat hal yang dipamerkan Haman kepada sahabat-sahabatnya:
1.      Kekayaan. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Tuhan menyediakan dan memberikan kekayaan kepada manusia. Namun Dia juga batasan dalam hal sikap manusia terhadapt kekayaan, yaitu supaya tidak tinggi hati dan tidak berharap kepada kekayaan, karena kekayaan adalah sesuatu yang tidak tentu (1 Timotius 6:17). Disinilah letak kesalahan Haman, sebab dia memamerkan kekayaannya, yang berarti dia tinggi hati.

2.     Anak laki-laki. Herodotus, sejarawan Yunani kuno mengatakan, “Di samping kecakapan pada lengan, hal yang digunakan untuk membuktikan bahwa seseorang itu perkasa adalah memiliki banyak anak.” Haman memamerkan bahwa dirinya mempunyai banyak anak laki-laki, yaitu sepuluh orang (Ester 9:10). Dengan cara ini sebenarnya dia sedang memamerkan dirinya sebagai orang yang perkasa. Bukankah dengan tidak dipamerkan pun orang lain akan tau juga? Ini menunjukkan bahwa Haman memang sombong.

3.     Pangkat dan jabatan. Ester 3:1 menjelaskan tentang promosi yang diterima Haman. Promosi yang tidak tanggung-tanggung! Selain pangkatnya dinaikkan, Haman juga memperoleh kedudukan yang sangat tinggi, yaitu di atas semua pembesar yang ada di hadapan raja. Tentu Haman sangat bangga, karena pangkat dan jabatan tinggi itu menunjukkan bahwa dia dipercaya oleh raja. Namun, kebanggaan Haman berlebihan dan berubah menjadi kesombongan. Tanpa dipamerkan pun, pangkat dan jabatan Haman akan diketahui semua orang, namun dia tetap memamerkan juga.

4.     Pengalaman istimewa. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing, termasuk Haman. Dia diundang bersama dengan raja ke perjamuan yang diadakan oleh Ester. Haman mengatakan bahwa tiada seorang pun diminta oleh Ester, sang ratu, untuk dating bersama-sama dengan raja ke perjamuan yang diadakannya, kecuali dirinya. “Tiada seorang pun, kecuali aku”, merupakan ungkapan dari pengalaman istimewa, sebab orang lain tidak mengalaminya. Namun, sekaligus ini merupakan ungkapan kesombongan, karena seharusnya Haman tidak perlu menyampaikan kepada orang lain, toh berita seperti ini akan tersebar juga.

Amsal 16:18 berkata,”Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Inilah pengalaman Haman! Apa yang dialami oleh Haman kiranya menjadi peringatan bagi kita. Tidak ada sesuatu pun dapat kita miliki jika tidak diizinkan Tuhan. Oleh sebab itu, jangan sombong! Gunakan apa yang kita miliki untuk memuliakan Tuhan. Amin.

·         Kata-kata Bijak          : Saat kita sombong, kita sedang berdiri di atas pasir; saat kita rendah hati, kita sedang berdiri diatas batu karang. J